Halo mantemans, apa kabar?
Semoga sehat-sehat saja di manapun kalian berada, ya.
Sudah lama ternyata aku tidak menulis di sini jajaja. Aku baru sadar. Padahal niatnya tiap bulan ada update baruu gituuu 😅
Aku baik-baik saja, kok. Aku sehat, mungkin bisa dibilang lebih sehat daripada sebelumnya karena aku sekarang mulai mencoba untuk diet, menjaga pola makan, berolahraga dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat hehe 😁
Agak susah memang apalagi aku sekarang ngekost, belum lulus kuliah dan tidak berpenghasilan hahaha... Berusaha menyeimbangkan gizi makanan dengan segala keterbatasan 😓 Yahh...namanya mencoba menjadi lebih baik. Doakan semoga berhasil lah, ya. Semoga terus berlanjut kebiasaan baik ini.
Hmm.... sebenarnya aku agak bingung mau mulai cerita darimana. Ada begitu banyak hal yang terjadi dalam hidupku selama dua bulan terakhir. Mungkin aku akan mulai bercerita tentang pengalaman sedihku kehilangan sahabat baikku deh 😢
Jadi, selama dua bulan berturut-turut, aku kehilangan teman-teman yang baik yang pernah kukenal sepanjang hidupku. Aku agak bingung sebenernya, apakah pantas menggunakan kata "kehilangan" atau "melepaskan kepergian" sahabatku, atau adakah kata lain yang lebih cocok untuk mendeskripsikan perasaan sesak yang menempel di dadaku ini.
Sahabat SMA ku, sebut saja "Neon". "Neon" adalah nama yang kami ciptakan untuk memanggil satu sama lain. Aku memanggilnya "Neon", dia memanggilku "Leon".
Aku kenal dia saat masuk SMA. Aku tidak begitu kenal anak ini. Memang sebelumnya pernah mendengar berbagai gosip dan kabar miring tentang dia sewaktu SMP. Ada yang bilang dia anaknya suka berulah dan cari perhatian, ada juga yang bilang kelakuannya agak seperti preman 😅 Yang ternyata, setelah aku mengenalnya, dia anak yang sangat seru dan baik.
Ingatanku tidak begitu bagus. Jadi aku tidak begitu ingat bagaimana awal mulanya kami berkenalan dan menjadi teman. Yang kuingat, aku telat masuk sekolah hampir sebulanan lebih karena ikut karantina pelatihan PASKIBRA. Aku lupa, apakah kami menjadi dekat karena dikenalkan oleh rekan dari tim PASKIBRA yang kebetulan adalah teman sejak kecilnya Neon, atau kami mulai menjadi teman sejak duduk sebangku di suatu kelas. Waktu itu kelasnya pindah-pindah, ga ada posisi tetap tempat duduk jadi begitu jam pelajaran berganti, kelas berganti, rekan sebangku juga ikut berganti sesuka hati hahaa. Jadi kangen masa SMA, deh.
Tiba-tiba saja kami jadi dekat. Sering duduk sebangku. Membuat nama duo, DUO JC. Aku sebagai Leon JC, dan dia Neon JC. Sebenarnya ada sejarah di balik nama-nama dan alias ini. JC dari kata "Jingah Community". Jingah itu setahuku adalah jenis tumbuhan liar di daerahku yang bisa menyebabkan rasa gatal. Mungkin karena ketika bersama kami seperti orang yang kegatelan alias tidak bisa diam karena selalu melawak, maka diambil kata Jingah itu. Kata Community muncul dari kelas Sosiologi. Ada guru yang sering mengucapkan kata community dan itu terngiang terus di kepala. Akhirnya jadilah nama duo kami "Jingah Community" yang disingkat JC. Nama Leon adalah nama aliasku di Facebook kala itu, Leon Kaminaga. Aku asal saja membuatnya karena aku memang suka membuat nama alias bernuansa jejepangan. Neon juga membuat namanya, Neon Edogawa. Mungkin nama Edogawa muncul dari komik Detektif Conan, Conan Edogawa. Aku tak yakin. Ingatanku benar-benar buruk.
Kami hampir selalu pergi berdua kemana-mana. Mengikuti ekstrakurikuler yang sama, sama-sama suka jajan. Neon memang berbadan lebih besar dari aku. Aku kurus dan tinggi. Jadi kami seperti angka 10 kalau jalan bersama.
Dia sering menjemputku untuk berkeliling kota dan menjelajah tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi di kotaku. Kadang masuk ladang dan hutan. Aku ngikut saja sambil bawa kamera untuk memuaskan hobi asal jepretku, dia yang menyetir motor.
Tahun kedua di bangku SMA, kami pisah kelas. Saat itu ada pembagian jurusan. Dia masuk jurusan IPA. Aku juga sebenarnya bisa masuk jurusan IPA, tapi aku nangis minta pada Mama kalau nanti saat pengambilan rapor, tolong bilang ke wali kelas agar aku masuk jurusan IPS saja. Entah kenapa aku ingin masuk jurusan IPS saat itu, sementara semua temanku berlomba masuk jurusan IPA dan jurusan IPA dianggap lebih bergengsi. Mungkin karena waktu itu gengsiku besar, sebab saat tahun pertama, aku terpilih mewakili kabupaten mengikuti olimpiade ekonomi di tingkat provinsi meskipun aku tidak menang juga hahaha. Mungkin faktor keberuntungan saja hahaha
Mulai saat itu, aku agak jarang berinteraksi dengan Neon karena sudah tidak sekelas lagi. Tapi seingatku dia masih berusaha menemuiku di kelasku saat jam kosong, terutama hari Jumat karena biasanya guru-guru malas mengajar dan banyak jam kosong hahahaha...
Dia masih setia mengajak bertemu dan menjemputku untuk foto-foto ngasal di pinggir jalan dan sungai besar yang mengalir di tengah kotaku.
Singkat cerita, tahun-tahun di SMA akan berakhir. Aku dapat beasiswa untuk berkuliah di sebuah universitas swasta di Jakarta. Jadi aku pun pindah ke Jakarta.
Dari sini cerita berubah. Aku merasa bersalah setiap aku teringat masa-masa ini.
Aku pergi ke Jakarta tanpa pamit padanya. Seingatku aku baru mengabari saat sudah tiba di Jakarta.
Memang kami jarang berkomunikasi lewat SMS maupun telepon saat itu. HP ku hanya hp biasa. Aku kudet. Tidak ada WhatsApp, tidak ada LINE dan sosmed lainnya. Paling kami saling mengontak saat mau membuat janji temu, selain itu jarang sekali berkirim pesan maupun telepon.
Aku ingat aku membuat tulisan di diaryku tentang aku merasa sedih meninggalkan Neon dan tidak pamitan. Kupikir-pikir lagi sekarang, kenapa aku bersikap demikian? Mengapa aku seperti menjadi orang jahat dalam kisah ini?
Aku jarang pulang ke kampung. Sekalipun pulang, selalu tidak bertepatan dengan waktu libur musiman karena harga tiket pasti mahal dan aku agak malas bertemu banyak orang karena aku terlalu tertutup kala itu. Beberapa kali aku membeli oleh-oleh tapi karena kami tidak pernah bertemu, akhirnya oleh-oleh itu jadi hak milik keluargaku deh.
Aku kehilangan nomor kontaknya. Tapi kami berteman di Facebook dan Instagram, ketika aku sudah mulai keracunan main medsos hahaha...tapi jarang sekali kami kontak. Paling hanya saling like postingan dan jadi penonton story saja.
Pertama bertemu dan terakhir kalinya, yaitu tahun 2018.
Aku pulang kampung diam-diam setelah bolos kuliah selama dua pekan. Dia tahu aku pulang kampung dan mengirimkan DM di Instagram mengajak bertemu.
Dia menjemputku siang itu. Aku terkejut, badannya lebih besar dari sebelumnya. Dia juga terkejut melihatku yang semakin kurus, tinggi, dengan rambut cepak.
Kami nongkrong sebentar di sebuah kafe pinggir sungai, ngobrol singkat tentang aku yang berkuliah di bidang politik dan dia di bidang kesehatan. Aku canggung karena sudah lama tidak bertemu. Caraku berbicara juga kurasa agak membuatku tidak nyaman karena aku mulai terbiasa logat betawi dan berusaha menjaga logat dan aksen lama dari kampungku saat berbicara.
Aku menyesal kenapa saat itu aku tidak banyak mengambil foto kami berdua. Mengapa aku tidak banyak berbicara? Mengapa aku harus merasa canggung? Mengapa aku tidak membawakan sesuatu sebagai buah tangan? Aku selalu melewatkan ulangtahunnya. Kenapa aku tidak minta maaf atas hal-hal yang telah lalu? Saat aku pergi tanpa pamit, saat aku jarang menghubunginya, saat aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun maupun hari raya? Sungguh, ada banyak hal yang kusesali sekarang.
Setelah menghabiskan satu mangkuk besar es campur, kami pergi ke tempat wisata yang agak jauh. Agak masuk ke pedalaman. Katanya ada tempat pemandian yang sedang tenar di kampungku. Tempat pemandian yang airnya berwarna merah karena akar-akar pohon.
Sesampainya di sana, kami hanya berkeliling melihat monyet-monyet di penangkaran, lalu duduk menikmati air mengalir di kakiku sambil melihat anak-anak kecil meloncat dari tempat tinggi ke air yang mengalir tenang. Aku memang sempat mengabadikan momen saat itu. Hanya sekilas. Dan sekarang foto dan video itu yang menghibur rasa sedihku saat aku rindu padanya. Tapi ujung-ujungnya aku akan tetap menangis. Suasana dalam video itu benar-benar tenang. Suasana khas hutan dengan suara air mengalir, ada aku dan dia yang tertawa. Ah, aku rindu. Aku merasa bersalah. Aku menyesal. Aku ingin memutar ulang waktu.
Itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku bertemu Neon. Aku masih tidak percaya.
Aku sempat menghubunginya lewat DM Instagram saat itu. Kami sama-sama sedang dalam proses membuat skripsi. Dia menyemangatiku.
Aku cerita kalau aku juga sambil bekerja (saat itu aku masih kerja di salah satu kedutaan besar di Jakarta) dan sambil kerja paruh waktu di sebuah yayasan musik karena aku sedang mengumpulkan uang untuk ikut lomba paduan suara di Jepang.
Neon bilang padaku agar aku menjaga kesehatanku. Dia bilang bahwa badan itu bukan robot. Aku masih ingat sekali dia bilang "badan bukan robot". Dan hatiku selalu sakit saat kuingat lagi itu sekarang.
2020, sepulang dari Jepang aku resign dari tempat kerja lamaku dan pulang kampung.
Tidak lupa aku mengabarinya via DM Instagram. Aku bilang aku akan pulang selama 2 minggu sampai hari Sabtu. Aku membawa gantungan kunci dari Jepang sebagai oleh-oleh untuknya.
Tidak lupa aku mengabarinya via DM Instagram. Aku bilang aku akan pulang selama 2 minggu sampai hari Sabtu. Aku membawa gantungan kunci dari Jepang sebagai oleh-oleh untuknya.
Kutunggu selama 2 minggu, tak ada kabar darinya. Akhirnya oleh-oleh gantungan kunci itu kuberikan kepada Bapakku, untuk digantung di kunci motor kami.
Hari Sabtu pagi aku bersiap ke ibukota provinsi untuk mengejar penerbangan esok pagi. Sore menjelang malam ia mengontakku via DM, menanyakan aku dimana.
Aku bilang aku sudah bersiap kembali karena harus mengurus KRS yang bermasalah.
Aku tidak bercerita yang sebenarnya karena aku malas menjelaskan bertele-tele. Aku menyadari kesalahanku. Seharusnya waktu itu aku bilang aku akan kembali hari Sabtu, bukan aku akan stay di kampung sampai hari Sabtu.
Aku rasa dia mungkin terburu-buru pulang agar bertemu denganku hari Sabtu, tapi aku sudah di ibukota provinsi.
KRS ku memang bermasalah, tapi sudah berhasil diselesaikan. Aku harus segera kembali karena tiket sudah dibeli dan ada yang ingin kutanyakan pada pihak akademik kampus terkait persiapan kelulusan dan lainnya.
Aku yakin mungkin dia juga kesal dan sedih karena kami tidak bertemu.
Aku pun kembali ke Jakarta tanpa firasat apa-apa. Aku yakin, di liburan berikutnya kami masih bisa bertemu.
Beberapa hari kemudian, aku mengucapkan selamat ulangtahun kepadanya via Facebook. Tapi tidak ada balasan. Akhirnya aku mengaktifkan kembali akun instagram yang selama ini kunonaktifkan lalu mengiriminya ucapan selamat dan minta maaf karena telat mengucapkan meskipun aku sudah mengucapkan juga di Facebook. Dia membalas, katanya tidak apa-apa. Dia juga sedang sibuk karena sedang PKL di kota lain.
Ini adalah bagian yang paling kusesali.
Saat itu aku merasa kesepian karena hanya di kost sendirian. Aku juga khawatir pada teman-temanku. Aku khawatir karena kasus COVID-19 semakin bertambah setiap hari.
Aku mengiriminya DM, menanyakan kabar.
Selang beberapa hari, dia tidak membalas. Saat kucek, pesanku sudah dibaca tapi tidak dibalas.
Aku kirimkan lagi, menanyakan kenapa pesanku hanya dibaca saja.
Saat itu ada beberapa teman lain yang juga kutanyakan kabar dan mereka tidak membalas pesanku, hanya dibaca saja. Salah satunya, Neon.
Ini membuatku kesal. Aku berpikir "ah, sudahlah. Mungkin semua ekstrovert begitu. Ya sudah kalau tidak mau, aku akan berhenti ngontakin mereka dulu sementara".
Aku belakangan menyadari, sepertinya sejak aku menanyakan mengapa dia tidak membalas pesanku, pesan terakhirku itu tidak dibacanya. Dia juga tidak pernah terlihat lagi sebagai penonton story ku. Akhirnya aku pun menutup akunku FB dan IG lagi.
Beberapa minggu kemudian, aku sudah mengaktifkan akunku lagi. Aku ingat benar, siang itu aku ingin menutup akun FB ku. Aku punya kebiasaan untuk membagikan lagu yang kudengar di spotify yang sesuai dengan perasaanku ke FB. Entah kenapa siang itu aku ingin sekali mendengar lagu Tulus yang berjudul Pamit. Akhirnya aku mendengarkan lagu itu dan membagikan ke FB sambil menulis salam pamit sebelum menutup akun FB ku lagi.
Entah kenapa aku ingin sekali mendengar lagu itu. Padahal aku bukan fans Tulus. Jujur, lagu Pamit pun baru siang itu kudengarkan secara lengkap. Aku tidak pernah mendengarkan lagu itu dan menyimak liriknya. Aku sambil mendengar sambil membaca lirik lagunya sambil berpikir "kok seram, ya. Kayak orang pamit mau meninggal". Begitu pikirku sambil menulis caption dan membagikannya ke FB.
Sekitar sejam kemudian, di grup alumnus SD tiba-tiba ada yang mengirimkan kabar duka bahwa Neon telah berpulang. Aku tidak percaya. Aku pikir itu kenalanku yang lain yang kebetulan bernama sama dengan nama aslinya Neon. Aku merinding. Aku tidak mau percaya. Aku berharap itu hanya hoax.
Aku langsung mengaktifkan kembali akun FB ku. Aku mendapat notifikasi pesan di FB, dari tetanggaku sekaligus teman SMA ku yang mengabari bahwa benar Neon telah berpulang sekitar jam satu siang. Aku bersumpah aku berharap itu hanya berita bohong. Aku benar-benar tidak mau mempercayainya.
Aku bolak-balik memeriksa akun FB nya Neon. Aku juga mengecek akun IG nya. Tapi belum ada ucapan berduka cita. Aku mencari akun FB kedua orangtuanya Neon. Aku tidak berteman dengan mereka di FB dan aku langsung mengirimkan permintaan pertemanan pada akun Ibunya. Lalu aku mulai mencari bukti apakah benar kabar duka ini.
Aku berusaha mengerahkan semua kemampuan stalking ku dan menggali ingatanku untuk mengingat siapa saja teman dekatnya yang bisa ditanyai mengenai kebenaran informasi ini. Karena aku tidak menemukan satupun post maupun story ungkapan berduka cita dari orang-orang yang dulu seingatku dekat dengannya. Aku sangat ingin memercayai bahwa ini hanya berita salah. Bahwa ini hanya prank.
Aku menemukan akun FB teman kecilnya, sebut saja Black, karena memang itu julukannya. Aku langsung menanyakan kebenaran berita tersebut. Tidak lama Black membalas dan mengonfirmasi bahwa memang benar Neon meninggal. Dia sudah lama punya penyakit berat. Sebenarnya sampai hari ini pun aku belum tahu jelas penyebab kematian sahabatku itu.
Aku tertegun. Aku menangis sejadi-jadinya. Sesak. Aku merasa hancur. Aku merasa patah hati. Ini bahkan lebih sakit daripada pengakuan cintaku yang tak berbalas. Aku belum pernah merasa sakit, merasa patah hati, sesedih ini. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang kurasakan. Aku merasa Tuhan tidak adil. Aku merasa Neon curang. Aku menangis sambil berteriak "kenapa aku ditinggal? Katanya mau lulus bareng, mau wisuda bareng? Kok aku ditinggal? Kenapa pergi duluan?". Begitu berulang-ulang. Aku menangis sejadi-jadinya sampai lemas, pusing, suaraku hampir hilang, aku kesusahan bernapas.
Saat itu aku sedang berantem dengan Mama. Aku belum berbicara dengan Mama hampir dua minggu lamanya. Siang itu juga aku menelpon Mama dan mengadukan kesedihan hatiku. Mama dan Bapak berusaha menenangkanku. Akhirnya Bapak bilang agar aku berhenti menangis, agar aku mengikhlaskan kepergian Neon, agar aku mendoakannya semoga dia beristirahat dalam damai di sisi Tuhan.
Aku benar-benar kacau. Aku sedih. Berulang kali aku mendengarkan lagu Pamit sambil menangis dan terkulai lemas di tempat tidur. Rasanya tidak percaya. Ada penyesalan. Ada kesedihan. Ada rasa bersalah atas berbagai hal yang kurasa belum kuselesaikan dengan baik. Ada penyesalan, kenapa aku punya pikiran jahat dan berniat untuk tidak menghubunginya lagi sebab dia tidak membalas pesanku.
Selama tiga hari aku masih menangis dan merasa benar-benar kacau. Aku mendengarkan lagu-lagu tentang persahabatan, lalu menangis. Aku memutar ulang kenangan tahun 2018 saat bertemu dengannya, aku menangis. Aku menemukan file foto-foto lama saat aku masih sering bermain bersamanya di tahun-tahun awal SMA, aku menangis lagi.
Sakit. Benar-benar sakit. Aku merasa belum pernah sesedih ini ketika orang yang kukenal meninggal dunia. Aku merasa Neon benar-benar sahabat terbaik yang pernah aku kenal. Aku menyesali berbagai hal yang membuatku semakin merasa bersalah dan merasa diriku adalah teman yang jahat.
Aku menemukan fotoku dan dia di akun instagramnya, sementara aku sendiri tidak punya foto dengannya di instagramku. Pernah aku post, tapi kusembunyikan lagi. Tidak hanya fotonya sebenarnya, foto teman-teman dekatku juga kusembunyikan karena aku belakangan mengalami ketakutan berlebihan terhadap kejahatan dunia maya, aku takut suatu saat orang berhasil membajak akunku dan berbuat jahat kepada teman-teman terdekatku, maka semua foto teman terdekatku kusembunyikan dari akun instagram.
Aku merasa bersalah. Kenapa aku dan dia tidak jadi bertemu di hari Sabtu itu, kenapa aku tidak mengatakan yang sebenarnya? Kenapa aku tidak pernah menyimpan saja semua oleh-oleh dan hadiah yang sangat ingin kuberikan dan kuberikan semuanya saat kami bertemu? Kenapa? Kenapa dan kenapa?
Penyesalan terus datang. Kesedihan merundungiku.
Aku mencoba mengikhlaskan. Aku lalu berdoa memohon kedamaian dan istirahat yang tenang bagi jiwanya. Aku harap sekarang dia sudah tenang di sana. Sekarang dia sudah tidak perlu merasakan sakit lagi.
Walau kadang aku masih ingin tidak mengakui apa yang terjadi. Aku tidak ingin percaya. Kadang ingin rasanya aku memutar waktu dan memperbaiki kesalahan-kesalahanku. Aku ingin sekali mengatakan dan membuat dia tahu bahwa aku bangga mengenalnya, aku bangga punya teman seperti dia, bahwa ingin minta maaf, bahwa betapa dia telah menjadi sahabat yang baik bagiku, bahwa selamanya dia akan menjadi sahabat baikku.
Saat menulis ini pun, dadaku sesak. Mataku berlinangan airmata. Kepalaku terasa sakit.
Baru aku tahu rasanya kehilangan itu sesakit ini.
Tapi aku tidak ingin dia menjadi cemas. Aku ingin dia tahu aku baik-baik saja sekarang. Aku ingin dia tahu aku sudah mengikhlaskannya dan mendoakan yang terbaik baginya. Kuharap dia sudah tenang dalam keabadian.
Sungguh aku sangat sayang sekali padamu, JC.
Aku berjanji aku akan menyelesaikan studiku seperti janji kita waktu itu walaupun kini tinggal aku sendiri. Aku akan menjadi sehat. Aku akan menjadi orang yang berguna bagi orang di sekitarku. Aku akan menikmati dan menghargai hidupku. Aku akan belajar menjadi orang yang lebih baik lagi, menjadi orang yang terbuka, hangat, menghargai orang lain, mampu membuat orang lain bahagia dengan kehadiranku. Sama seperti yang dulu kau lakukan padaku. Seperti yang kurasakan akan kehadiranmu dalam hidupku.
Sampai nanti waktunya tiba untukku juga pulang. Tunggulah aku, JC.
Mari kita bertemu lagi dalam keabadian.
Mari kita bertemu lagi dalam keabadian.
Aku sangat menyayangimu.
Ah...
aku sudah tidak mampu lagi untuk meneruskan tulisan ini.
Kurasa itu yang bisa kubagikan kepada kalian.
Aku mohon, kepada kalian yang membaca ini. Hargailah orang terdekat kalian, buat mereka bahagia. Selama masih ada waktu. Minta maaflah, jika ada kesalahan. Apapun yang kalian rasakan, ungkapkanlah. Jangan ditahan, jangan ditunda. Kita tidak pernah tahu usia. Katakan dan lakukan sebelum semuanya tinggal penyesalan.
Bagi yang pernah mengalami ditinggalkan oleh orang terkasih, jangan lupa untuk mendoakan ketenangan jiwa mereka agar dapat beristirahat dalam damai.
Sekian dulu dariku.
Aku benar-benar terbawa perasaan. Aku tidak tahu lagi bagaimana mengakhiri tulisan ini.
Aku harap kalian semua juga selalu menjaga kesehatan ya. Sampai bertemu lagi di tulisan berikutnya!
Jangan lupa bahagia!
Comments
Post a Comment